Whatsapp-Button

Dialektika Digital: Kedaulatan Kognitif dan Etika di Hadapan Algoritma

0
Dialektika Digital: Kedaulatan Kognitif dan Etika di Hadapan Algoritma

Dunia kontemporer tidak lagi hanya sekadar menggunakan teknologi; kita hidup di dalam teknologi. Sebagaimana yang pernah dikemukakan oleh Marshall McLuhan bahwa "medium adalah pesan", internet dan Kecerdasan Buatan (AI) hari ini bukan sekadar alat, melainkan lingkungan yang membentuk cara kita berpikir dan bertindak. Di tengah kepungan disinformasi dan ancaman privasi, literasi digital harus berevolusi dari sekadar kemampuan operasional menjadi sebuah Kedaulatan Kognitif.

Dekonstruksi Realitas di Era Post-Truth

Seiring dengan masifnya konten yang dihasilkan oleh AI, batas antara yang nyata dan yang disimulasikan menjadi kabur—sebuah kondisi yang oleh Jean Baudrillard disebut sebagai hyperreality. Dalam konteks ini, identifikasi hoaks bukan lagi sekadar memeriksa referensi, melainkan sebuah tindakan dekonstruksi terhadap narasi yang sengaja diciptakan untuk memicu bias konfirmasi.

Literasi informasi hari ini menuntut kita untuk menerapkan apa yang disebut para akademisi sebagai "Lateral Reading". Kita tidak bisa lagi hanya terpaku pada satu sumber; kita harus bergerak secara horizontal, melintasi berbagai platform untuk membedakan antara kebenaran empiris dan simulakra digital yang dirancang oleh algoritma demi tujuan ekonomi atau politik.

Etika Digital sebagai Kontrak Sosial Baru

Dalam ruang digital yang sering kali anonim, kita menghadapi krisis empati yang akut. Mengacu pada pemikiran Emmanuel Levinas tentang "Etika Wajah", tantangan terbesar di media sosial adalah bagaimana kita tetap bertanggung jawab kepada orang lain meskipun kita tidak bertatap muka secara langsung.

Etika digital tidak boleh berhenti pada formalitas kesopanan. Ia harus menjadi bentuk kontrak sosial baru yang menjunjung tinggi martabat manusia di atas engagement atau viralitas. Keadaban digital adalah upaya sadar untuk melawan "kapitalisme pengawasan" yang cenderung mengeksploitasi emosi negatif pengguna demi menjaga mereka tetap berada di dalam platform.

Keamanan Data: Benteng Terakhir Otonomi Individu

Di era di mana data pribadi sering kali dipanen tanpa henti, pemikiran Shoshana Zuboff mengenai The Age of Surveillance Capitalism menjadi sangat relevan. Keamanan data bukan lagi sekadar masalah teknis TI, melainkan perjuangan untuk mempertahankan hak asasi atas privasi dan otonomi diri.

Setiap tindakan keamanan—mulai dari enkripsi hingga kesadaran akan phishing—adalah upaya untuk mencegah diri kita menjadi sekadar "bahan baku" bagi prediksi perilaku yang dilakukan oleh mesin. Literasi keamanan data adalah bentuk perlawanan terhadap determinisme teknologi; ia adalah cara kita memastikan bahwa manusia tetap memegang kendali atas narasi hidupnya sendiri, bukan algoritma yang bekerja di balik layar.

Epilog: Literasi sebagai Praksis Kebebasan

Pada akhirnya, meminjam istilah Paulo Freire mengenai literasi sebagai "reading the word and reading the world", literasi digital di abad ke-21 adalah sebuah praksis kebebasan. Ia adalah kemampuan untuk membaca kode, memahami algoritma, dan sekaligus menyadari dampaknya terhadap dunia nyata.

Menjadi literat secara digital berarti memiliki keberanian untuk berpikir kritis di tengah arus informasi yang seragam. Ini adalah tentang mengklaim kembali kemanusiaan kita di dalam ekosistem yang semakin mekanis, memastikan bahwa teknologi tetap menjadi pelayan bagi akal budi, bukan penguasa atas kesadaran kita.

Post a Comment

0Comments
Post a Comment (0)

Hello!

Klik salah satu perwakilan kami di bawah untuk mengobrol di WhatsApp atau mengirim email kepada kami gerimisculamega@yahoo.co.id

Admin1 Komunitas Ngejah
+6282216084103
Admin2 Calon Desain
6281585398339
Call us to +6281585398339 from 0:00hs a 24:00hs
Halo! Apa yang bisa saya lakukan untuk Anda?
×
Apa yang bisa saya bantu?